MAKNA KESUCIAN DAN KEISTIMEWAAN BULAN RAJAB

Nur Khoiri Online
Al Asy Hurul Hurum adalah bulan Dzulqa’dah, Dzulhijjah, Muharram dan Rajab. Bulan-bulan ini di istimewakan oleh Allah Ta’ala dengan kesuciannya dan Dia menjadikan bulan-bulan ini sebagai bulan-bulan pilihan di antara bulan yang ada. Allah Ta’ala berfirman:
Sesungguhnya bilangan bulan disisi Allah ialah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, diantaranya empat bulan haram…” (QS. At Taubah:36)
Ibnu Jarir ath Thabari rahimahullah meriwayatkan melalui sanadnya, dari Ibnu Abbas radhiallahu anhu sehubungan dengan pengagungan Allah terhadap kesucian bulan-bulan ini, beliau berkata, “Allah Ta’ala telah menjadikan bulan-bulan ini sebagai (bulan-bulan yang) suci, mengagungkan kehormatannya dan menjadikan dosa yangdilakukan pada bulan-bulan ini menjadi lebih besar dan menjadikan amal shalih serta pahala pada bulan ini juga lebih besar.” (Tafsir ath Thabari)
Orang-orang arab pada masa Jahilyah mengharamkan (mensucikan) bulan ini, mengagungkannya serta mengharamkan peperangan pada bulan-bulan ini. Imam Ibnu Katsir rahimahullah mengatakan, “Bulan-bulan yang diharamkan (disucikan) itu hanya ada empat. Tiga bulan secara berururtan dan satu bulannya berdiri sendiri (tidak berurutan) lantaran adanya manasik Haji dan Umrah. Maka , ada satu bulan yang telah diharamkan (disucikan) yang letaknya sebelum bulan-bulan Haji, yaitu bulan Dzulqa’dah, karena ketika itu mereka menahan diri dari perang. Sedangkan bulan Dzulhijah diharamkan(disucikan) karena pada bulan ini mereka pergi menunaikan ibadah Haji, dan pada bulan ini mereka menyibukkan diri dengan berbagai ritual manasik Haji. sebulan setelahnya, yaitu bulan Muharram juga disucikan karena pada bulan ini mereka kembali dari Haji ke negeri asal mereka dengan aman dan damai. Adapun bulan Rajab yang terletak di tengah-tengah tahun diharamkan (disucikan) karena orang yang berada di pelosok Jazirah Arabia berziarah ke Baitul Haram. Mereka datang berkunjung ke Baitul Haram dan kembali ke negeri mereka dengan keadaan aman.” (Tafsir Ibni Katsir)
Adapun dalil yang terdapat dalam al Qur’an tentang bulan-bulan Haram ini adalah firman Allah Ta’ala:
Mereka bertanya tentang berperang pada bulan Haram. Katakanlah:’ Berperang dalam bulan itu adalah dosa besar…’” (QS. Al Baqarah:217)
Juga firman Allah:
Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu melanggar syi’ar-syi’ar Allah, dan jangan melanggar kehormatan bulan-bulan Haram…” (QS. Al Maidah:2)
Al Hafizh Ibnu Katsir menyatakan,”Yang dimaksudkan oleh ayat ini adalah pemuliaan dan pensucian bulan tersebut dan pengakuan terhadap kemuliaannya serta meninggalkan semua yang dilarang oleh Allah, seperti memulai peperangan dan penegasan terhadap perintah menjauhi hal yang diharamkan…” (Tafsir Ibnu Katsir)
Allah Ta’ala berfirman:
Allah telah menjadikan Ka’bah, rumah suci itu sebagai pusat (peribadatan dan urusan dunia) bagi manusia, dan (demikian pula) bulan Haram…”(QS. Al Ma’idah:97)
Al Baghawi rahimahullah menuturkan, “Maksudnya bahwa Allah menjadikan bulan-bulan Haram ini sebagai penunaian kewajiban kepada manusia untuk menstabilkan keadaan pada bulan-bulan ini dari peperangan.” (Tafsir Al Baghawi dan Zaadul Masiir). Di dalam ash Shahihahin terdapat hadist dari Abu Bakrah rahimahullah dari Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wassalam banwa beliau bersabda:
Sesungguhnya zaman telah berputar seperti keadaannya ketika Allah menciptakan langit dan bumi, dalam setahun itu terdapat dua belas bulan. Empat diantaranya adalah bulan haram (disucikan). Tiga dari empat bulan itu, (jatuh secara) berurutan yaitu Dzulqa’dah, Dzulhijah, Muharram. Sedangkan Rajab (yang disebut juga sebagai) syahru Mudhar, terletak diantara Jumada (ats Tsaniyah) dan Sya’ban.” (QS. Bukhari)

Keutamaan dan Keberkahan Bulan Rajab
Diriwayatkan bahwa apabila Rasulullah Shalallahu ‘Alahi Wassalam memasuki bulan Rajab beliau berdo’a:
اللهم بارك لنا فى رجب وسعبان، وبلغنا رمضان.
Ya, Allah berkahilah kami di bulan Rajab (ini) dan (juga) Sya’ban, dan sampaikanlah kami kepada bulan Ramadhan.” (HR. Imam Ahmad, dari Anas bin Malik).

روى عن النبى صلى الله عليه وسلم أنه قال : رأيت ليلة المعراج نهرا ماؤه أحلى من العسل وأبرد من الثلج وأطيب من المسك فقلت لجبراﺌيل ياجبرائيل لمن هذا؟ قال لمن صلى  عليك فى رجب.
Ketika Nabi Muhammad melaksanakan mi’raj nabi melihat sungai yang airnya lebih manis dari pada kurma dan lebih dingin dari pada salju dan lebih wangi dari pada minyak misik, maka Nabi bertanya kepada malaikat Jibril: sungai ini di anugrahkan untuk siapa? Maka Jibril menjawab: untuk orang yang membaca shalawat kepada engkau di bulan Rajab.

عن أنس بن مالك رضى الله تعالى عنه أنه قال : لقيت معاذ بن جبل رضى الله تعالى عنه فقلت له من اين جئت يامعاذ؟ قال جئت من عند النبى عليه الصلاة والسلام، فقلت ما سمعت منه؟ قال سمعت من قال لاإله إلا لله خالصا مخلصا دخل الجنة، ومن صام يوما من رجب يبتغى به وجه الله دخل الجنة ثم دخلت على رسول الله فقلت يا رسول الله إن معاذا أخبرنى بكذا وكذا فقال عليه الصلاة والسلام صدق معاذ.
Dari Anas bin Malik RA. Sesungguhnnya Anas berkata: saya bertemu dengan Muadz bin Jabal kemudian saya bertanya kepada Muadz, hai Muadz kamu datang dari mana? Kemudian Muadz menjawab saya dari Nabi Muhammad saw, dan Anas bertanya kepada Muadz: apa yang telah kamu dengar dari Rasulullah, Muadz mendengarkan bahwa orang yang mengucapkan lailahaillallah dengan ikhlas dan ridlo maka ia masuk surge dan barang siapa yang berpuasa sehari di bulan Rajab maka ia betemu dengan Allah dan masuk surge, kemudia Anas menemui Rasulullah, dan Anas berkata kepada Rasulullah bahwa Muadz memberi kabar seperti ini, kemudia Rasulullah menjawab bahwa Muadz benar.

Posting Komentar

[blogger]

MKRdezign

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget