Agustus 2011

Gunung Makkah Berkisah
Kota Makkah teletak di lembah atau wadi yang dikitari dengan gunung gunung. Semua yang bernama gunung atau bukit di negeri ini hanyalah gundukan batu yang menyilaukan mata apalagi kalau dilihat di siang bolong atau di terik matahari. Dari sekian banyaknya jabal / bukit, ada beberapa jabal yang mempunyai nilai sejarah dan kisah yang tidak bisa dilupakan oleh umat Islam. Diantaranya:
Jabal Abi Qubais

Setiap muslim yang datang ke Makkah untuk berhaji atau berumrah pasti mendengar nama Jabal Abi Qubais, tapi dimana tempatnya banyak yang tidak mengetahuinya. Jabal Abi Qubaiis berada disebelah timur Baitullah, Jika kita berdiri membelakangi Hajar Aswad, maka pandangan kita akan melurus ke sebuah istana megah (Istana Shafa) berdiri diatas sebuah bukit yang telah dipapas. Sebetulnya memotong sebuah pohon saja tidak diperbolehkan di Makkah, apalagi mempapas sebuah bukit bersejarah. Bukit yang telah dipapas sedemikian rupa, itulah Jabal Abi Qubais yang mempunyai sejarah yang berkaiatan dengan sejarah Baitullah dan Kota Makkah.
Jabal abi qubais adalah bukit yang letaknya sangat dekat dengan Masjidil Haram dan berhadapan dengan bukit Shofa. Ia merupakan gunung yang pertama kali diciptakan Allah dimuka bumi setelah penciptaan baitullah Ka’bah.
Jabal Abi Qubais atau yang lebih dikenal oleh orang Indoneisa dengan nama Jabal kubais, mempunyai ketinggian 420 meter. Dulu di atas puncak bukit tersebut ada sebuah masjid kecil yang dinamakan Masjid Bilal. Bukit ini menurut ulama Makkah merupakah bukit mulia karena berdekatan dengan Ka’bah dan menghadap ke bukit Shofa. Ada riwayat yang menyatakan bahawa Jabal Abi Qubais adalah gunung / bukit pertama yang diciptakan Allah dimuka bumi kemudian terpencar darinya jabal jabal lainya.
Banyak peristiwa bersejarah berkait dengan Jabal Abi Qubais. Jabal Abi Qubais dikenal juga dengan nama Jabal al-Amin (bukit kepercayaan / bukit penyimpan amanah), kerena Allah telah mengamankan Hajar Aswad di bukit ini pada waktu datangnya air bah di zaman nabi Nuh as. Tatkala nabi Ibrahim as membangun Baitullah, Hajar Aswad dikeluarkan kembali dari Jabal Abi Qubais lalu dibawa oleh Jibril as dan serahkannya kepada nabi Ibrahim as untuk disimpan disudut Ka’bah.
Selain dari pada itu, diriwayatkan juga bahwa batu-batu yang digunakan untuk membangun Baitullah oleh nabi Ibrahim as diambil dari Jabal Abi Qubais dan Jabal al-Ka’bah. Setelah nabi Ibrahim ra selesai membangun Ka’bah, ia naik ke atas jabal Abi Qubais. Dari atas bukit ini ia berseru:
وَأَذِّن فِي ٱلنَّاسِ بِٱلْحَجِّ يَأْتُوكَ رِجَالاً وَعَلَىٰ كُلِّ ضَامِرٍ يَأْتِينَ مِن كُلِّ فَجٍّ عَميِقٍ

” Dan berserulah kepada manusia untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki, dan mengendarai unta yang kurus yang datang dari segenap penjuru yang jauh” (al-Hajj: 27)

Banyak juga riwayat yang menyatakan bahwa mukjizat Rasulallah saw membelah bulan terjadi di Jabal Abi Qubais. Kafir Quraisy telah meminta kepada Nabi saw untuk membuktikan kenabiannya agar beliau membelah bulan. Maka dengan kekuasaan Allah beliau telah membelah bulan menjadi dua belahan dengan tunjukan jari beliau. Peristiwa hebat ini telah disaksikan oleh kaum musyrikin Makkah bahwa bulan benar-benar terbelah dua, satu belahan berada di atas Jabal Qubais, dan belahan kedua bergerak kearah Jabal Qaiu’an atau Qu’aiqu’an yang terletak berhadapan dengan bukit Marwa.


E-LIFE
Kamis, 04 Agustus 2011 , 07:46:00
Tinggi, Cerai Karena Beda Pandangan Politik
Perempuan Lebih Banyak Ajukan Cerai

JAKARTA - Percekcokan memang kerap membuat hukuman suami-istri tidak harmonis dan berujung perceraian. Namun, jangan dikira jika cekco tersebut masih didominasi urusan ekonomi dan ketidaksetiaan. Terbaru, beda pandangan politik justru menjadi tren penyebab tingginya angka perceraian saat ini.

"Agak aneh memang jika urusan politik saat ini lebih tinggi ketimbang pertengkaran urusan perut dan antar pasangan. Namun, itulah fakta yang di dapat Direktorat Jenderal Badan Peradilan Agama (Baperlag) Mahkamah Agung (MA). "Biasanya meningkat saat pemilu atau pemilihan presiden," ujar Ditjen Baperlag Wahyu Widiana.

Fakta tersebut bukan isapan jempol. Sebab, data lain dari Baperlag MA menunjukkan ledakan perceraian akibat beda pandangan politik sebanyak 402 kasus di 2009. Itu terjadi selama pemilihan legislatif dan presiden yang notabene hanya berlangsung tidak lebih dari enam bulan. "Di 2010, ketika situasi politik kembali normal, perceraian politik turun jadi 334 kasus belaka," ujarnya.

Data yang dirilis Baperlag, dari 285.184 perceraian seluruh Indonesia 2010 lalu, 334 diantaranya disebabkan oleh perbedaan pandangan politik. Dari prosentase memang kurang dari persen, namun hal itu tetap mencolok. Apalagi, dari jumlah tersebut paling banyak ada di Jawa Timur. "Total 221 pasangan cerai di Jatim," imbuhnya.

Sementara itu, Jawa Barat berada dibawah Jawa Timur dengan 51 kasus perceraian. Sementara itu, Jawa Tengah tercatat lebih sedikit terjadi perceraian karena beda pandangan politik dengan 36 kasus. Kasus yang agak banyak terjadi di Riau dengan perceraian mencapai 13 pasangan.

Lebih lanjut Wahyu Widiana menjelaskan, kasus tersebut juga melanda kawasan Indonesia timur. Buktinya, Papua juga ada kasus serupa yakni 2 pasangan. Sama dengan proses perceraian di Sumatera Selatan dan Sulawesi Selatan. "Sementara satu kasus ada di Aceh, Bengkulu, Yogyakarta, Kalimantan Barat, Kalimantan Timur, Sulawesi Tengah dan Nusa Tenggara Barat," ungkapnya.

Bagaimana dengan DKI Jakarta? Meski tensi kehidupan di ibu kota sangat tinggi, ternyata tidak ada perceraian yang diakibatkan oleh perbedaan pandangan politik. Wahyu membenarkan hal itu karena di daftar yang dikeluarkannya memang tidak ada. "Begitu juga dengan provinsi lain selain yang disebut tadi," tandasnya.

Penyebab dari tingginya angka perceraian akibat beda pandangan politik memang beragam. Namun, yang bisa dipastikan angka tersebut mulai merangkak naik mengikuti konstalasi politik nasiona. Terutama saat terjadinya pemilihan umum baik legislatif maupun presiden. Sebab, saat pemilu usai tren perceraian akibat beda pandangan politik ikut menurun.

Lepas dari itu, masalah ekonomi memang masih menjadi penyebab utama terjadinya perceraian. Dari 285.184 kasus perceraian, sebanyak 67.891 adalah cerai akibat cekcok masalah ekonomi. Dari angka tersebut, paling banyak terjadi di Jawa Barat dengan 33.684 kasus. Jawa Timur kembali masuk angka tertinggi perceraian dengan 21.324 kasus.

Entah apa yang terjadi, Jawa Timur lagi-lagi menyumbang angka yang cukup tinggi dalam kasus perceraian akibat perselingkuhan. Dari total 20.199 kasus, sebanyak 7.172 berasal dari daerah pimpinan Gubernur Soekarwo. Di susul Jawa Barat 3.650 kasus dan posisi Jawa Tengah 2.503 perceraian. "Kalau cerai gara-gara poligami, ada 1.389 kasus," urainya.

Fakta lainnya, dalam kurun waktu 2010 ternyata pihak perempuan yang lebih banyak mengajukan perceraian. Menurut Wahyu, dari total perceraian sebanyak 59 persennya atau sekitar168.258 kasus diajukan oleh istri. "Dari suami hanya 29 persen dan sisannya oleh pihak ketiga," jelasnya. (dim)

Oleh DR.KH.MA Sahal Mahfudh

HARI ini kita kembali bertemu Ramadan. Seperti biasanya kita menyikapi Ramadan dengan tidak biasa, setidaknya dari sisi jadwal harian; Kantor-kantor, sekolah-sekolah, dan fasilitas layanan publik lainnya. Pada umumnya

sedikit memperpendek jam kerja, bukan karena malas saya kira melainkan dimaksudkan untuk melakukan aktivitas ibadah yang lain seperti tadarus alquran, mengikuti kuliah yang lazim dan marak diselenggarakan di majelis-majelis taklim atau di masjid-masjid, atau bagi sebagian orang untuk mempersiapkan buka puasa bersama keluarganya. Pada malam hari masjid dan mushala semakin syiar dengan rutinitas baru jamaah tarawih dan tadarrus quran. Jumlah jamaah juga lebih banyak dari hari-hari di luar Ramadan. Seolah tak ingin kehilangan momentum, media massa pun ikut mengubah jadwal dan tampilan; di koran ada kolom khusus Ramadan, di televisi semua tayangan berikut iklannya sebagian besar bermuatan kegamaan khususnya hal-hal berkait Ramadan.

Semua itu dilakukan demi mendapatkan hikmah, ampunan, berkah, dan rahmat sebagaimana yang dijanjikan Allah akan dilimpahkan dengan sangat murah atas nama kemuliaan Ramadan.

Wajar jika kemudian muncul pertanyaan bagaimana jadinya jika hidup ini tanpa Ramadan? Kenapa kita menyikapinnya secara berbeda?

Saat Ramadan tiba umat Islam tanpa terkecuali wajib menunaikan puasa. Pada taraf awam sebagaimana dipaparkan al-Ghazali, puasa adalah menahan diri dari makan-minum dan bersetubuh sejak fajar hingga maghrib. Pada taraf ini keabsahan puasa ditentukan oleh kemampuan setiap individu dalam mengendalikan perut dan farji (kemaluan) yang merupakan sumber utama nafsu manusia. Sekilas taraf ini tampaknya mudah dan sederhana tetapi sesungguhnya puasa mengajarkan sesuatu yang sangat asasi karena puasa di sini berarti pengendalian sumber utama nafsu dan pada umumnya perilaku menyimpang seperti mencuri, mencopet, merampok, korup dan penyimpangan-penyimpangan lain manusia dimulai dari ketamakan manusia yang bermula dari nafsu yang timbul dari perut dan farji.

Rasulullah bersabda; sesungguhnya syaitan mengiringi kehidupan manusia mengalir bersamaan dengan aliran darahnya karena itu sempitkanlah jalan syaitan itu dengan cara lapar. Jika puasa yang demikian ini dilakukan dengan benar maka secara pribadi puasa akan menjadi pengendali yang sangat kuat bagi setiap individu dalam hidup ini, meminimalisasi pengaruh syetan dan ketika pengaruh syetan semakin kecil maka semakin mudah bagi setiap individu dalam ketaatan ibadah untuk kehidupan yang lebih baik. Faktanya banyak orang yang mencapai derajat kemuliaan hidup karena yang bersangkutan rajin berpuasa termasuk puasa sunnah dan banyak orang pula yang terjerembab dalam jurang kenistaan karena masalah yang bermula dari perut dan farji. Sedangkan secara sosial puasa pada taraf ini akan membentuk pelakunya empati terhadap saudara-saudaranya yang kurang mampu setalah setiap individu merasakan payahnya lapar dan haus selama berpuasa.

Taraf kedua merupakan taraf sedang, al-Ghazali menyebutnya shaum al-khushus dan puasanya orang-orang shalih. Di sini puasa tidak sekedar tentang perut dan farji, puasa mencakup juga penjagaan panca indera dan semua anggota badan dari semua jenis kemaksiatan. Demi keabsahan puasa, setiap individu tidak diperkenankan mendengarkan atau melihat hal-hal yang membuat pelakunya lalai kepada Allah atau hal-hal lain yang dilarang, berlaku atau berkata tidak jujur, membantu kecurangan dan kesewenang-wenangan dengan kekuasaan yang dimilikinya. Puasa menghaurskan pelakunya jujur, dan kejujuran sebagaimana dituntut oleh puasa adalah kejujuran yang tulus, kejujuran yang tidak harus dipaksa oleh pembuktian fisik, tidak juga memerlukan kesaksian karena kejujuran adalah keselarasan antara nurani dengan ucapan dan tindakan, bukan urusan bukti atau saksi. Akhir-akhir ini kita disuguhi tontonan yang sangat ironis sekaligus miris dengan adanya kasus mafia hukum, mafia pajak, mafia pemilu, dan yang terbaru mafia anggaran. Dalam kasus-kasus itu kita susah menentukan siapa yang jujur dan siapa yang tidak jujur, meskipun logika awam dapat menilai siapa yang jujur dan siapa yang tidak jujur, toh pada akhirnya kejujuran (di dunia ini) harus dipaksakan dengan sejumlah bukti di pengadilan karena masing-masing pihak dalam kasus-kasus tersebut melakukan pengingkaran mulai dengan cara paling kasar sampai cara paling halus, sebuah apologi terakhir yang biasa terucap ketika penjelasan (rekayasa) rasional tidak lagi mencukupi ”mana buktinya? bawa ke pengadilan kalau ada”. Dari kejadian-kejadian terahir ini kejujuran sepertinya menjadi sesuatu yang sangat sulit kita dapatkan, harapan untuk mendapatkan kejujuran (bahkan meskipun dengan cara dipaksa) menjadi semakin sulit diraih ketika lembaga-lembaga yang diharapkan dapat menjadi benteng terakhir justru terlibat dalam perilaku tidak jujur dengan bermain hukum.

Taraf ketiga, sebuah taraf puncak yang disitilahkan oleh al-Ghazali sebagai shaum khusus al-khusus atau puasa hati, yaitu puasa dengan menjaga hati dari segala sesuatu di luar Allah yang maha kuasa selain tentu saja mencakup pelaksanaan taraf pertama dan kedua. Secara umum puasa adalah ibadah yang bersifat privat baik pada taraf pertama maupun kedua, karena pada akhirnya sah atau tidaknya puasa dikembalikan pada pelakuknya, seseorang bisa saja mengatakan dirinya berpuasa sambil makan-minum tanpa sepengetahuan orang lain, atau bisa saja mengatakan berpuasa sambil melakukan kebohongan atau penipuan. Dan puasa pada taraf puncak ini sudah melampaui batas prifasi itu karena keabsahannya diukur dari kebersihan hati seseorang untuk hanya ingat kepada Allah bukan yang lain. Imam Ghazali mengatakan ”Inilah puasanya para nabi dan shiddiqin”.

Disinilah saya kira dua pertanyaan di atas mendapatkan jawabannya, pertama Ramadan dengan puasanya menjadikan kehidupan kita tidak monotan, Ramadlan menjadi semacam refresh setalah setiap orang sibuk dengan aktifitasnya selama sebelas bulan yang lain. Kedua Ramadan dengan puasa dan segenap fasilitas ampunan, rahmah, berkah dan kemulaiaannya, menjadi semacam sekolah mandiri untuk membangun spiritualitas dengan keimanan terhadap Allah sebagai pembimbingnya. Jika lulus dan kita semua berharap lulus (bukan sekedar keluar dari rutinitas tahunan), maka kita akan menjadi muttaqin yaitu manusia yang tunduk penuh kepada Allah yang ketundukannya bukan sekedar ketundukan lahir tetapi juga ketundukan batin sebagaimana yang diajarkan oleh puasa, manusia-manusia yang memiliki kedudukan paling mulia disisi Allah, sebagaimana firman Allah inna akramakum indallai atqakum.

Marhaban ya Ramadan, semoga kita diberikan kekuatan lahir batin untuk menunaikan puasa dan menjalankan ibadah-ibadah lain secara tulus, semoga Ramadlan melahirkan manusia-manusia dan para pemimpin negara yang bertaqwa, memiliki integritas tinggi yang tulus dan jujur sehingga mampu membawa negara ini dan rakyatnya pada kesejahteraan yang diridlai Allah, baldatun tayyibatun wa rabbun ghafur. (34)

— KH.MA Sahal Mahfudh, Rais Aam PBNU dan Pengasuh Pondok Pesantren Maslakul Huda (PPMH) Kajen, Margoyoso Pati, Ketua MUI dan Rektor INISNU Jepara.

MKRdezign

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget