Oleh DR.KH.MA Sahal Mahfudh
HARI ini kita kembali bertemu Ramadan. Seperti biasanya kita menyikapi Ramadan dengan tidak biasa, setidaknya dari sisi jadwal harian; Kantor-kantor, sekolah-sekolah, dan fasilitas layanan publik lainnya. Pada umumnya
sedikit memperpendek jam kerja, bukan karena malas saya kira melainkan dimaksudkan untuk melakukan aktivitas ibadah yang lain seperti tadarus alquran, mengikuti kuliah yang lazim dan marak diselenggarakan di majelis-majelis taklim atau di masjid-masjid, atau bagi sebagian orang untuk mempersiapkan buka puasa bersama keluarganya. Pada malam hari masjid dan mushala semakin syiar dengan rutinitas baru jamaah tarawih dan tadarrus quran. Jumlah jamaah juga lebih banyak dari hari-hari di luar Ramadan. Seolah tak ingin kehilangan momentum, media massa pun ikut mengubah jadwal dan tampilan; di koran ada kolom khusus Ramadan, di televisi semua tayangan berikut iklannya sebagian besar bermuatan kegamaan khususnya hal-hal berkait Ramadan.
Semua itu dilakukan demi mendapatkan hikmah, ampunan, berkah, dan rahmat sebagaimana yang dijanjikan Allah akan dilimpahkan dengan sangat murah atas nama kemuliaan Ramadan.
Wajar jika kemudian muncul pertanyaan bagaimana jadinya jika hidup ini tanpa Ramadan? Kenapa kita menyikapinnya secara berbeda?
Saat Ramadan tiba umat Islam tanpa terkecuali wajib menunaikan puasa. Pada taraf awam sebagaimana dipaparkan al-Ghazali, puasa adalah menahan diri dari makan-minum dan bersetubuh sejak fajar hingga maghrib. Pada taraf ini keabsahan puasa ditentukan oleh kemampuan setiap individu dalam mengendalikan perut dan farji (kemaluan) yang merupakan sumber utama nafsu manusia. Sekilas taraf ini tampaknya mudah dan sederhana tetapi sesungguhnya puasa mengajarkan sesuatu yang sangat asasi karena puasa di sini berarti pengendalian sumber utama nafsu dan pada umumnya perilaku menyimpang seperti mencuri, mencopet, merampok, korup dan penyimpangan-penyimpangan lain manusia dimulai dari ketamakan manusia yang bermula dari nafsu yang timbul dari perut dan farji.
Rasulullah bersabda; sesungguhnya syaitan mengiringi kehidupan manusia mengalir bersamaan dengan aliran darahnya karena itu sempitkanlah jalan syaitan itu dengan cara lapar. Jika puasa yang demikian ini dilakukan dengan benar maka secara pribadi puasa akan menjadi pengendali yang sangat kuat bagi setiap individu dalam hidup ini, meminimalisasi pengaruh syetan dan ketika pengaruh syetan semakin kecil maka semakin mudah bagi setiap individu dalam ketaatan ibadah untuk kehidupan yang lebih baik. Faktanya banyak orang yang mencapai derajat kemuliaan hidup karena yang bersangkutan rajin berpuasa termasuk puasa sunnah dan banyak orang pula yang terjerembab dalam jurang kenistaan karena masalah yang bermula dari perut dan farji. Sedangkan secara sosial puasa pada taraf ini akan membentuk pelakunya empati terhadap saudara-saudaranya yang kurang mampu setalah setiap individu merasakan payahnya lapar dan haus selama berpuasa.
Taraf kedua merupakan taraf sedang, al-Ghazali menyebutnya shaum al-khushus dan puasanya orang-orang shalih. Di sini puasa tidak sekedar tentang perut dan farji, puasa mencakup juga penjagaan panca indera dan semua anggota badan dari semua jenis kemaksiatan. Demi keabsahan puasa, setiap individu tidak diperkenankan mendengarkan atau melihat hal-hal yang membuat pelakunya lalai kepada Allah atau hal-hal lain yang dilarang, berlaku atau berkata tidak jujur, membantu kecurangan dan kesewenang-wenangan dengan kekuasaan yang dimilikinya. Puasa menghaurskan pelakunya jujur, dan kejujuran sebagaimana dituntut oleh puasa adalah kejujuran yang tulus, kejujuran yang tidak harus dipaksa oleh pembuktian fisik, tidak juga memerlukan kesaksian karena kejujuran adalah keselarasan antara nurani dengan ucapan dan tindakan, bukan urusan bukti atau saksi. Akhir-akhir ini kita disuguhi tontonan yang sangat ironis sekaligus miris dengan adanya kasus mafia hukum, mafia pajak, mafia pemilu, dan yang terbaru mafia anggaran. Dalam kasus-kasus itu kita susah menentukan siapa yang jujur dan siapa yang tidak jujur, meskipun logika awam dapat menilai siapa yang jujur dan siapa yang tidak jujur, toh pada akhirnya kejujuran (di dunia ini) harus dipaksakan dengan sejumlah bukti di pengadilan karena masing-masing pihak dalam kasus-kasus tersebut melakukan pengingkaran mulai dengan cara paling kasar sampai cara paling halus, sebuah apologi terakhir yang biasa terucap ketika penjelasan (rekayasa) rasional tidak lagi mencukupi ”mana buktinya? bawa ke pengadilan kalau ada”. Dari kejadian-kejadian terahir ini kejujuran sepertinya menjadi sesuatu yang sangat sulit kita dapatkan, harapan untuk mendapatkan kejujuran (bahkan meskipun dengan cara dipaksa) menjadi semakin sulit diraih ketika lembaga-lembaga yang diharapkan dapat menjadi benteng terakhir justru terlibat dalam perilaku tidak jujur dengan bermain hukum.
Taraf ketiga, sebuah taraf puncak yang disitilahkan oleh al-Ghazali sebagai shaum khusus al-khusus atau puasa hati, yaitu puasa dengan menjaga hati dari segala sesuatu di luar Allah yang maha kuasa selain tentu saja mencakup pelaksanaan taraf pertama dan kedua. Secara umum puasa adalah ibadah yang bersifat privat baik pada taraf pertama maupun kedua, karena pada akhirnya sah atau tidaknya puasa dikembalikan pada pelakuknya, seseorang bisa saja mengatakan dirinya berpuasa sambil makan-minum tanpa sepengetahuan orang lain, atau bisa saja mengatakan berpuasa sambil melakukan kebohongan atau penipuan. Dan puasa pada taraf puncak ini sudah melampaui batas prifasi itu karena keabsahannya diukur dari kebersihan hati seseorang untuk hanya ingat kepada Allah bukan yang lain. Imam Ghazali mengatakan ”Inilah puasanya para nabi dan shiddiqin”.
Disinilah saya kira dua pertanyaan di atas mendapatkan jawabannya, pertama Ramadan dengan puasanya menjadikan kehidupan kita tidak monotan, Ramadlan menjadi semacam refresh setalah setiap orang sibuk dengan aktifitasnya selama sebelas bulan yang lain. Kedua Ramadan dengan puasa dan segenap fasilitas ampunan, rahmah, berkah dan kemulaiaannya, menjadi semacam sekolah mandiri untuk membangun spiritualitas dengan keimanan terhadap Allah sebagai pembimbingnya. Jika lulus dan kita semua berharap lulus (bukan sekedar keluar dari rutinitas tahunan), maka kita akan menjadi muttaqin yaitu manusia yang tunduk penuh kepada Allah yang ketundukannya bukan sekedar ketundukan lahir tetapi juga ketundukan batin sebagaimana yang diajarkan oleh puasa, manusia-manusia yang memiliki kedudukan paling mulia disisi Allah, sebagaimana firman Allah inna akramakum indallai atqakum.
Marhaban ya Ramadan, semoga kita diberikan kekuatan lahir batin untuk menunaikan puasa dan menjalankan ibadah-ibadah lain secara tulus, semoga Ramadlan melahirkan manusia-manusia dan para pemimpin negara yang bertaqwa, memiliki integritas tinggi yang tulus dan jujur sehingga mampu membawa negara ini dan rakyatnya pada kesejahteraan yang diridlai Allah, baldatun tayyibatun wa rabbun ghafur. (34)
— KH.MA Sahal Mahfudh, Rais Aam PBNU dan Pengasuh Pondok Pesantren Maslakul Huda (PPMH) Kajen, Margoyoso Pati, Ketua MUI dan Rektor INISNU Jepara.
Posting Komentar