Ramadhan dan Pendidikan Karakter

Sya’ban adalah bulan kedelapan dalam penanggalan Hijriyah. Secara bahasa kata “Sya’ban” mempunyai arti “berkelompok”. Nama ini disesuaikan dengan tradisi bangsa Arab yang berkelompok mencari nafkah pada bulan itu). Sya’ban termasuk bulan yang dimuliakan oleh Rasulullah Saw. selain bulan yang empat, yaitu Dzulqa'dah, Dzulhijjah, Muharram, dan Rajab. Salah satu pemuliaan Rasulullah Saw. terhadap bulan Syaban ini adalah beliau banyak berpuasa pada bulan ini. Sya’ban juga dikatakan sya’aban, karena sya’ban yang berasal dari kata syi’ab bisa dimaknai sebagai jalan setapak menuju puncak. Artinya bulan sya’ban adalah bulan persiapan yang disediakan oleh Allah swt kepada hambanya untuk menapaki dan menjelajahi keimanannya sebagai persiapan menghadapi puncak ‘bulan Ramadhan’. Puasa bulan suci Ramadhan adalah fardhu ‘ain bagi setiap orang mukallaf (dewasa/baligh). Perintah pengamalannya (kefardhuannya) turun pada tanggal 10 Sya’ban 18 bulan setelah Nabi Saw. hijrah ke Madinah. Pendidikan karakter adalah usaha menanamkan kebiasaan-kebiasaan yang baik (habituation) sehingga peserta didik mampu bersikap dan bertindak berdasarkan nilai-nilai yang telah menjadi kepribadiannya. Dengan kata lain, pendidikan karakter yang baik harus melibatkan pengetahuan yang baik (moral knowing), perasaan yang baik atau loving good (moral feeling) dan perilaku yang baik (moral action) sehingga terbentuk perwujudan kesatuan perilaku dan sikap hidup peserta didik. Pendidikan karakter bertujuan mengembangkan nilai-nilai yang membentuk karakter bangsa yaitu Pancasila, meliputi: (1) mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia berhati baik, berpikiran baik, dan berprilaku baik; (2) membangun bangsa yang berkarakter Pancasila; (3) mengembangkan potensi warga negara agar memiliki sikap percaya diri, bangga pada bangsa dan negaranya serta mencintai umat manusia. Konsep pendidikan karakter dalam Al-Qur’an meliputi: Pertama Manusia adalah makhluk yang memiliki tabiat, potensi dan kecenderungan ganda, yakni positif dan negatif (QS. Asy-Syams: 8), Kedua Masa tepat pembentukan karakter mulai dibentuk sejak dalam kandungan karena anak belajar dimulai dari apa yang dia dengar, lihat dan rasakan, (QS. An-Nahl: 78), Ketiga Subjek dan objek pendidikan karakter adalah setiap individu manusia yang berkewajiban mentransformasikan dan menginternalisasikan nilai-nilai positif bagi orang lain dan dia juga berhak menerima pengaruh positif dari lingkungannya serta Rasulullah saw. adalah Al-Qur’an hidup (the living Qur’an) sebagai subyek pendidikan karakter terbaik bagi manusia (QS. At-Tahrim: 6 dan QS. Ash-Shaf: 2-3) dan, Keempat Tahap pembentukan karakter bermula dari konsep yang ditanamkan pada diri anak, lalu di diajarkan agar mencintai karakter atau perilaku tersebut, lalu dia membiasakannya dan dia benar-benar melakukannya tanpa paksaan apapun dari orang lain (QS. Luqman: 13-19, QS. Fushshilat: 46, QS. Al-Ahqaf: 13, QS. Al-Ahzab: 21 dan QS. Hud: 112) di mana pendidikan karakter ditempatkan sebagai landasan untuk mewujudkan visi pembangunan nasional, yaitu “Mewujudkan masyarakat berakhlak mulia, bermoral, beretika, berbudaya, dan beradab berdasarkan falsafah Pancasila”. Puasa menjadi momen bagi para ibu untuk memanfaatkannya sebagai media mendidik anak-anak. Utamanya yang belum akil baliq. Lewat manfaat puasa, para ibu bisa mulai membentuk kepribadian anak. Menurut penelitian Tim Relawan Psikologi dari Bulan Sabit Merah Indonesia (BSMI) menunjukkan bahwa manfaat puasa amat besar bagi perkembangan anak. Dari sisi perkembangan kognitif, puasa mengajak anak berpikir kreatif. Dari perkembangan emosi, anak belajar pengendalian diri. Sementara dari perkembangan sosial, anak-anak diajari kepedulian. Melihat besarnya manfaat puasa pada anak tersebut, maka para ibu hendaknya mendorong anak-anaknya bisa menjalankan puasa pertama mereka dengan baik. Untuk itu, para ibu harus mengetahui banyak faktor yang mempengaruhi kemampuan anak berpuasa. Peran ibu amat penting sebagai motivator anak dalam belajar berpuasa. Motivasi yang paling efektif adalah teladan. Jika ibu dan anggota keluarga lain berpuasa, maka anak akan mudah mengikutinya. Namun, ada latihan yang harus diterapkan pada anak-anak. Untuk mulai mengajak, mereka bisa dicoba untuk diajak berpuasa selama dua jam pada hari pertama. Berikutnya, menjadi tiga jam dan bertambah pada hari seterusnya sesuai kemampuan. Jika anak ingin makan tak perlu melarangnya dengan alasan karena berpuasa adalah kewajiban dia sendiri kepada Allah SWT. Biarkan anak-anak berpikir bahwa puasa itu menjadi urusan mereka dengan Allah SWT. Ini akan membuat mereka mengenal tentang hukum-hukum Allah SWT. Dari sisi pendidikan, ramadhan sarat dengan berbagai pesan yang dapat diimplementasikan dalam mencapai kualitas pendidikan yang terteinggi. Dalam Ilmu Pendidikan Islam, tujuan akhir dari penddikan adalah tercapainya kondisi 'penghambaan' yang totalitas dari manusia. Totalitas 'penghambaan' hanya dapat dilaksanakan oleh orang yang benar-benar memiliki karakteristik muttaqin. Muttaqin, adalah orang yang melakukan penghambaan cipta, karya dan karsanya dalam rangka 'imtitsal' (menjalankan) perintah Allah dan berupaya menjauhkan diri dari larangan-Nya.Dunia pendidikan ketiga aspek tersebut merupakan kompetensi yang harus dicapai oleh peserta didik dalam pembelajarannya, yaitu mencapai tingkat penguasaan kompetensi kognitif, affektif dan psikomotor. 1) Aspek Kognitif Ibadah Ramadhan Dari sisi kompetensi kognitif, puasa ramadhan mengajarkan kepada kita agar kita mampu meniti tangga-tangga tertinggi dari kompetensi tersebut. Ramadhan menunjukkan kepada kita agar kita mampu mencapai tingkat tertinggi dari ranah kognitif, yang kalau meminjam istilah Prof. Dr. Achmad Sanusi, dikenal "higher thinking skill" (keterampilan berfikir tingkat tinggi). Dalam teori Bloom, tingkatan kognitif paling tinggi adalah 'mampu mengevaluasi'. Dengan demikian, Ramadhan harus mampu mendorong pelaksananya untuk memapu memikirkan secara evaluatif dari kegiatan ramadhannya. Ramadhan dari aspek ini mengajarkan kepada kita agar mampu melakukan evaluasi dalam rangka perbaikan. Seperti halnya orang yang belajar, kesalahan adalah pengalaman yang berharga dalam rangka mencari kebenaran. Proses evaluasi dilaksanakan untuk membuktikan tingkat pencapaian kita terhadap peringkat tertentu. Dalam ramadhan peringkat 'muttaqun' adalah puncak tertinggi dengan segenap karakteristik dan konsekuensinya. Seharusnya ramadhan mampu mendorong kita untuk mampu mengevaluasi diri "sudahkah kita menjadi orang yang bertakwa?". "Adakah ciri-ciri orang yang bertakwa itu pada diri kita?". "Sudahkah kita berbuat sebagaimana yang dilakukan orang-orang yang bertakwa?". Sebetulnya yang mengevaluasi ibadah shaum kita adalah prerogatif Allah. "Ashaumu li wa ana ajzi bih" (puasa itu milik-Ku, dan Akulah yang memberikan balasannya (menilainya)". Meski demikian, ada standar-standar yang diberikan oleh Hadits dan ajaran ulama tentang puasa yang 'insya Allah' mendapat nilai baik. Standar-standar itulah yang harus dijadikan dasar kompetensi penerapan makna shaum ramadhan dalam kehidupan kita sehari-hari. Level-level lain hikmah kognitif puasa ramadhan, diantaranya kita mempu mensintesiskan ramadhan ke dalam kehidupan kita sehari-hari. Ramadhan bukan hanya dijadikan sebagai pemahaman dan ingatan semata, melainkan juga harus mampu dipahami dan disintesiskan sehingga ramadhan mampu menjadi 'ruh' perjalanan ibadah kita di dalam maupun di luar ramadhan. 2) Aspek Afektif Ibadah Ramadhan Secara singkat affektif lebih dekat dengan istilah rasa dan sikap. Dengan melalui pendekatan afektif ibadah ramadhan, seharusnya ramadhan mampu menciptakan proses transformasi diri dan sikap pelakunya agar mampu menerapkan kebaikan-kebaikan yang terdapat di dalamnya. Banyak sekali hikmah ramadhan yang berkaitan dengan perbaikan sikap seorang muslim. Misalnya, yang diajarkan oleh Nabi tentang kecintaan dan kepedulian terhadap sesama: "seseorang tidak layak dikatakan beriman, sehingga dia mampu mencintai (peduli) kepada saudaranya seperti dia mencitai (peduli) kepada dirinya". Pesan ini (seharusnya) sangat nyata dalam bulan ramadhan. Para da'i dan muballigh sering menganalogikan ibadah puasa ramadhan dengan kepedulian kita terhadap kaum fuqara dan masakin. "kita harus ingat, mereka mungkin dapat makan pagi untuk hari ini, besok belum tentu!" dan sejenisnya. Namun yang paling penting adalah sikap kita sebagai realisasi perwujudan hikmah ramadhan terhadap mereka. Rasa lapar puasa di siang hari ramadhan, seharusnya mewujudkan rasa hormat dan kagum kita kepada mereka. Rasa haus kita di bulan ramadhan, seharusnya menumbuhkan sikap untuk menyayangi mereka, seperti halnya kita menyayangi diri kita sendiri. Hadits Nabi menyatakan: "Perumpamaan orang mukmin dengan mukmin lainnya bagaikan satu tubuh. Bila ada anggota tubuh yang sakit, maka anggota tubuh lainnya ikut merasakannya". Ketika kaki kita tersandung batu, mulut kita sentak menjerit, mata kita berlinang, dan tangan kita dengan reflek mengelus-elus daerah yang sakit. Di sisi lain kita harus mampu memaknai lapar ramadhan sebagai sikap kita untuk menguji tingkat kesabaran kita. Bisakah kita bersabar dan mengendalikan nafsu kita di saat waktunya sarapan kita tinggalkan, makan siang kita tinggalkan, ke kafe di sore hari kita tinggalkan. Karena kita dan Allah sendiri yang mampu menilai sejauhmana nafsu kita mampu mengendalikannya. 3) Aspek Psikomotor Ibadah Ramadhan Iklim dan budaya ramadhan yang ajaib mampu mendorong umat Islam untuk memperbanyak variasi ibadah dengan berbagai bentuknya, mulai dari ibadah individual maupun ibadah sosial. Selain itu, ramadhan juga mampu menghidupkan malam-malamnya dengan bacaan-bacaan al-Qur'an dan shalat-shalat sunnah. Suatu kondisi yang sangat indah di padang mata. Aktivitas positif ramadhan yang sering kita jumpai di berbagai tempat tersebut, seharusnya dapat pula berjalan hingga awal-awal bulan syawal saja, melainkan juga harus mampu hidup di setiap bulan. Rasulullah bersabda: "man qaama ramadhana imaanan wahtisaban ghufira lahu ma taqqadam min dzambih" (barang siapa mendirikan ibadah ramadhan dengan keimanan dan keikhlasan, maka akan diampuni oleh Allah segala dosa-dosanya yang telah lalu). Dalam konteks lain dikatakan "suci bersih bagai bayi yang baru lahir dari rahim ibunya". Pertanyaannya tidakkah kita ingin bahwa pengampunan itu juga berlaku di luar ramadhan? Oleh karena itu dalam memaknai hadits tersebut, term qaama harus dipahami dengan makna yang holistik dan universal. Kata qaama harus dipahami sebagai mendirikan secara kontinuitas atau istiqamah (qaama dan istiqaamah merupakan dua kata dengan satu akar kata). Aspek-aspek praktis kegiatan ramadhan seharusnya menjadi bagian dari praksis dunia pendidikan. Sehingga pendidikan bukan hanya mengemban misi untuk mencerdaskan atau membuat manusia mengenal dirinya dan Tuhannya, akan tetapi mampu menumbuhkan sikap sebagai orang intelek dan mampu merealisasikannya dalam kehidupan. "ilmu tanpa amal bagaikan pohon tanpa buah". Pengajian al-Qur'an yang bersahutan di malam-malam ramadhan, seharusnya tidak berhenti di bulan-bulan lainnya. Frekuensi shadaqah dan infak di bulan ramadhan, bukan hanya sekedar trend sesaat. Semuanya harus menjadi realisasi bentuk ibadah kita di bulan-bulan lainnya. Sehingga pengampunan Allah dapat berlaku di hari-hari lain di luar ramadhan.
Label:

Posting Komentar

[blogger]

MKRdezign

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget