Mencium Tangan


Mencium Tangan
Oleh: Muhammad Rizqi Romdhon
Pendahuluan
Sudah menjadi kebiasaan yang jamak di lingkungan pesantren untuk mencium tangan. Seorang santri akan mencium tangan seorang kiayi atau ustadznya. Sebagai rasa penghormatan seorang santri kepada ajengan atau kiayinya.
Juga di kalangan Nahdliyin kebiasaan ini adalah merupakan tradisi yang harus dipertahankan. Karena merupakan ciri khas dan pembeda dengan golongan lainnya.
Mungkin hanya sedikit yang tahu bahwa mencium tangan ini adalah salah satu dari sunat Nabi, bukan tradisi yang diada-adakan oleh orang NU.
Jadi apabila ada sebagian orang yang menganggap mencium tangan adalah pengkultusan atau penyembahan kepada seorang ajengan atau kiayi, maka sudah pasti orang yang berpendapat tersebut adalah salah! Karena dia tidak mengamalkan apa yang telah dicontohkan oleh para salafus salih.
Demikian di bawah ini adalah beberapa dalil yang membolehkan juga disunatkan untuk mencium tangan, kaki dan perut Nabi; juga mencium tangan Ahlul Bait dan Ulama pewaris Nabi:
1. Dalil dari Hadits Nabi
عن أم أبان بنت الوراع بن زراع عن جدها رضي الله عنهم, وكان في وفد عبد القيس, قال: لما قدمنا المدينة جعلنا نتابدر من رواحلنا فنقبل يد النبي صلى الله عليه وسلم ورجله (رواه البخاري).
“Dari Ummu Aban binti al-Warra’ bin Zarra’ dari kakeknya radliyallahu ‘anhum; dan kakeknya merupakan salah satu delegasi Abdul Qais (yang mendatangi Nabi). Kakeknya Ummu Aban berkata: Saat kita sampai di Madinah, kami berlarian dari kendaraan kita untuk mencium kedua tangan dan kaki Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam” (HR Bukhori).
عن سيدنا جابر رضي الله عنه أن سيدنا عمر رضي الله عنه قبل يد النبي (رواه الحافظ ابن المقرئ).
“Dari Sayyidina Jabir radliyallahu ‘anhu bahwasanya Umar radliyallahu ‘anhu mencium tangan Nabi” (HR al-Hafizh Ibn al-Muqri)
عن سيدنا الوزاع بن عامر رضي الله عنه قال: قدمنا, فقيل ذلك رسول الله صلى الله عليه وسلم فأخذنا بيديه ورجليه نقبله (رواه البخاري).
“Dari Sayyidina al-Wazza’ bin ‘Amir radliyallahu ‘anhu berkata: sewaktu kita tiba (ke Madinah), maka dikatakan kepada kami bahwa dia adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, maka kami mengambil kedua tangan dan kakinya lalu kami menciumnya” (HR Bukhori).
عن سيدنا حبان بن واسع عن أشياخ من قومه رضي الله عنهم أن رسول الله صلى الله عليه وسلم عدل الصفوف يوم بدر وفي يده قدح, فمر بسواد بن غزية فطعن في بطنه, فقال: أوجعتني فأقدني, فكشف صلى الله عليه وسلم فاعتنقه وقبل بطنه, فدعا له بخير (رواه أحمد).
“Dari Sayyidina Hibban bin Wasi’ dari pembesar-pembesar kaumnya radliyallahu ‘anhum, bahwasanya sewaktu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam meluruskan barisan pada waktu perang Badar dan pada tangan beliau sebuah kendi, lalu beliau melewati Sawwad bin Ghuzayyah dan melukai perut Sawwad (tidak sengaja -red.-). Maka Sawwad berkata: Anda telah melukai saya maka berilah saya balasan! Kemudian Nabi membuka bajunya, lalu Sawwad memeluk Nabi dan mencium perutnya, lalu Nabi mendoakan bagi Sawwad agar mendapat kebaikan” (HR Ahmad).
عن ابن حجر العسقلاني في فتح الباري أن أبا لبابة وكعب بن مالك وصاحبيه رضي الله عنهم, قبلوا يد النبي صلى الله عليه وسلم حين تاب الله عليهم (فتح الباري 48/11).
“Dari Ibn Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari; bahwasanya Abi Lubabah dan Ka’b bin Malik dan kedua temannya radliyallahu ‘anhum mencium tangan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam ketika Allah memberikan taubat kepada mereka” (Fathul Bari 48/11).
عن ابن جدعان, قال ثابت لأنس: أمسست النبي بيدك؟ قال: نعم فقبلها (رواه البخاري).
“Dari Ibn Jud’an, Tsabit berkata kepada Anas: Apakah anda memegang Nabi dengan tangan anda? Anas berkata: Iya! Maka Tsabit mencium tangan Anas” (HR Bukhori)
عن الشعبي: أن زيد بن ثابت رضي الله عنه صلى على جنازة فقربت إليه بغلته ليركبها فجاء سيدنا عبد الله بن عباس رضي الله عنهما, فأخذ بركابها فقال زيد بن ثابت رضي الله عنه: خل عنك يا ابن عم رسول الله صلى الله عليه وسلم, فقال سيدنا ابن عباس رضي الله عنه: هكذا أمرنا أن نفعل بالعلماء والكبراء فقبل زيد بن ثابت يد عبد الله وقال: هكذ أمرنا أن نفعل بأهل بيت رسول الله صلى الله عليه وسلم (رواه الحاكم).
“Dari asy-Sya’bi: Bahwasanya Zaid bin Tsabit radliyallahu ‘anhu menyalatkan jenazah, lalu mendekatlah kepada Zaid keledai miliknya untuk dinaikinya. Kemudian datanglah ‘Abdullah bin ‘Abbas radliyallahu ‘anhu sambil menuntun keledai Zaid. Berkatalah Zaid kepadanya: Lepaskanlah wahai sepupu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam! Ibn ‘Abbas malah menjawab: Beginilah kami diperintahkan untuk berbuat baik kepada para Ulama dan Pembesar (agama). Lalu tiba-tiba Zaid mencium tangan Ibn ‘Abbas dan berkilah: Beginilah kami diperintah untuk berbuat baik kepada Ahlul Bait Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam” (HR Hakim).
عن صهيب قال: رأيت عليا يقبل يد العباس ورجليه (رواه البخاري).
“Dari Shuhaib berkata: Saya melihat Ali mencium tangan dan kedua kaki al-’Abbas” (HR Bukhori).
2. Dalil dari Qaul Salafus Salih
قال العسقلاني: قال الإمام النووي: تقبيل يد الرجل لزهده وصلاحه وعلمه أو شرفه أو نحو ذلك من الأمور الدينية لا يكره بل يستحب. فإن كان لغناه, أو شوكته أو جاهه عند أهل الدنيا فمكروه شديد الكراهة (فتح الباري 48/11).
“Al-’Asqalani berkata: Imam Nawawi berkata: mencium tangan seseorang karena zuhudnya, keshalehannya, ilmunya, kemuliaannya, ataupun semacamnya yang berhubungan dengan urusan agama; tidak dimakruhkan malah disunatkan. Tetapi apabila mencium tangan karena kekayaannya, kekuasaannya, pengaruhnya diantara ahli Dunia maka itu adalah makruh yang sangat-sangat makruh!” (Fathul Bari 48/11).
قال السفاريني الحنبلي: وقال أبو المعالي في شرح الهداية: أما تقبيل يد العالم والكريم لرفده فجائز, وقد علمت أن الصحابة قبلوا يد المسطفى صلى الله عليه وسلم كما في حديث ابن عمر رضي الله عنهما عند قدوم من غزوة مؤتة (غذاء الألباب 287/1).
“Al-Safarini al-Hanbali berkata: Abul Ma’ali berkata di Syarhu Hidayah: Mencium tangan seorang ulama, yang mempunyai kemuliaan karena agamanya maka itu adalah boleh. Dan aku telah mengetahu bahwasanya para shahabat selalu mencium tangan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam seperti yang telah disebutkan dalam Hadits Ibn Umar radliyallahu ‘anhum ketika beliau pulang dari perang Mu`tah” (Gidzaul Albab 287/1).
قال الإمام مالك: إن كانت (إي قبلة يد الرجل) على وجه التكبر والتعظيم فمكروهة, وإن كانت على وجه القربة إلى الله لدينه أو لعلمه أو لشرفه فإن ذلك جائز (فتخ الباري 84/11).
“Imam Malik Berkata: Apabila mencium tangan seseorang karena membesarkan dan mengagungkan maka itu adalah makruh. Tetapi apabila karena untuk mendekatkan diri kepada Allah untuk agamanya, ilmunya, kemuliaannya maka itu adalah boleh” (Fathul Bari 84/11).
قال ابن عابدين الحنفي: ولا بأس بتقبيل يد الرجل العالم المتورع على سبيل التبرك, وقيل سنة (حاشية ابن عابدين 254/5).
“Ibn ‘Abidin al-Hanafi berkata: Tidak apa-apa mencium tangan seseorang yang berilmu dan wara’ karena untuk mencari berkah, malahan itu adalah sunat” (Hasyiyah Ibn ‘Abidin 254/5).
Dari hadits-hadits dan qaul-qaul ulama diatas, kita dapat mengambil pelajaran bahwasanya mencium tangan seseorang yang mempunyai kelebihan dalam agama baik karena ilmunya, zuhudnya, wara’nya, keshalehannya, keturunannya; adalah diperbolehkan.
Dan apabila mengambil qiyas dari dalil diatas, maka mencium tangan orang tua lebih diperbolehkan karena memuliakan orang tua adalah perintah Tuhan yang telah ditetapkan di dalam al-Quran.
http://nahdliyin.net/

Tuntunan Islam untuk Keluarga Jenazah

September 10th, 2009
Amaliah Ahli MayitPendahuluan
Di lingkungan Nahdliyin ketika seseorang meninggal biasanya para ahli warisnya sering mengadakan berbagai ritual. Mulai dari talqin sampai membaca quran untuk mayit. Orang yang tidak sepaham dengan NU menganggap amalan ini adalah bid’ah, padahal ini semua adalah sunah nabi muhammad shallallahu alaihi wasallam. Amaliah tersebut adalah: talqin mayit setelah dikubur, membaca yasin bagi mayit, memberikan makan bagi yang ta’ziah, mengirimkan pahala bacaan quran, ziarah kubur dan tawasul.
1. Talqin mayit
لقنوا موتاكم لااله إلا الله (رواه مسلم)
“Talqinkanlah orang yang mati kalian (dengan) la ilaha illallah”. (HR Muslim)
Menurut Al-Muhib Ath-Thabari, Ibn Al-Himmam, Asy-Syaukani dan yang lainnya lafdz “موتاكم” dikhususkan bagi yang telah mati, dan digunakan untuk yang sakratul maut dalam bentuk majaz dengan syarat harus ada qorinahnya. Dan pada hadits ini tidak ada qorinah untuk majaznya. Maka talqin mayit pada hadits ini ditujukan untuk orang yang telah meninggal.
أخرج الحافظ سعيد بن منصور حديثا: (إذا سوي على الميت قبره وانصرف الناس عنه كانوا (أي الصحابة) يستحبون أن يقال للميت عند قبره: يا فلان قل لا اله إلا الله, أشهد أن لا اله إلا الله ثلاث مرات يا فلان قل ربي الله وديني الإسلام ونبيي محمد صلى الله عليه وسلم ثم ينصرف).
Al-Hafizh Sa’id ibn Mansur mengeluarkan hadits:
“Apabila kalian sudah memasukan mayit ke dalam kuburnya dan orang telah pergi dari situ, terbukti bahwa para Sahabat mensunatkan untuk mengatakan kepada mayit pada kuburnya: wahai Fulan ucapkanlah la ilaha illallah dan bersaksilah bahwa tiada Tuhan selain Allah tiga kali, wahai Fulan ucapkanlah Tuhanku Allah agamaku Islam Nabiku Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Lalu para Sahabat meninggalkan kuburan tersebut.”
Asy-Syaukani mengatakan bahwa Al-Hafizh Ibn Hajar menyebutkan hadits ini di dalam kitab Talkhis dan tidak menomentarinya. (Talkhis al-Habir halaman 243 juz 5 dari Majmu An-Nawawi).
2. Membaca yasin
عن معقل بن يسار رضي الله عنه أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال: (يس قلب القران لا يقرؤها رجل يريد الله والدار الآخرة إلا غفر الله له, اقرؤوها على موتاكم). (رواه أحمد)
“Dari Ma’qil bin Yasar berkata: Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: (Bacakanlah yasin bagi yang telah meninggal diantara kalian)”. (HR Ahmad)
Yang dimaksud dengan “موتاكم” yaitu mayit dalam arti sebenarnya, bukan orang yang sekarat. Asy-Syaukani dan Al-Muhib Ath-Thabari berpendapat bahwa lafadz “موتاكم” pada hadits bermakna yang telah meninggal dan bukan majaz yang bermakna sekarat, karena tidak adanya qorinah yang menunjukan pada makna sekarat. (Nailul Awthar 3/25).
3. Memberi makan yang bertaziah
عن طاووس قال: (إن الموتى يفتنون في قبورهم سبعا ويستحبون أن يطعموا عنهم تلك الأيام).
“Dari Thawus berkata: (Sesungguhnya yang meninggal akan dicoba (diuji) di dalam kuburnya selama tujuh hari, maka disunahkan untuk memberi makan (diniatkan shadaqah) dari para mayit pada hari-hari tersebut)”.
Al-Hafizh Ibn Hajar menyebutkan hadits ini di dalam kitab Al-Mathalib Al-‘Aliyah (1/199) dan berkata isnadnya kuat.
4. Mengirimkan pahala bacaan
Hadits tentang membaca yasin adalah dalil bahwa pahala bacaan sampai kepada mayit.
عن عبد الرحمن بن العلاء بن اللجلاج عن أبيه قال لي أبي اللجلاج: (يا بني إذا مت فالحد لي لحدا, فإن وضعتني في لحدي فقل: بسم الله وعلى ملة رسول الله ثم سن التراب علي سنا, ثم اقرأ عند رأسي بفاتحة البقرة وخاتمتها, فإني سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول ذلك).
“Dari Abdurrahman bin Al-’Ala bin Al-Lajlaj dari ayahnya berkata: berkata padaku ayahku Al-Lajlaj: (Wahai anakku apabila aku mati maka buatkanlah untuku liang lahat, maka apabila kalian memasukan ke dalam liang lahatku maka bacalah bismillah wa ‘ala millati rasulillah lalu taburkanlah tanah kepadaku satu taburan, lalu bacakanlah dekat kepalaku awal Al-Baqarah dan akhir Al-Baqarah. Karena sesungguhnya aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berbicara demikian)”.
Hadits ini dikemukakan oleh Ath-Thabrani dalam Al-Kabir (13613) dan oleh Al-Haitsami dalam Majma’ Az-Zawaid (4242) dan Rijalul Haditsnya terpercaya semua.
عن الإمام الأحمد قال: حدثنا ابن المغيرة حدثنا الصفوان قال: كانت المشيخة يقولون: إذا قرئت أي يس عند الميت خفف عنه بها.
“Dari Imam Ahmad berkata: Berbicar kepada kami Ibn Al-Mughirah, berbicara kepada kami Ash-Shafwan berkata: Terbukti bahwa para Masyaikhah (Ulama-ulama) berkata: Apabila Yasin dibacakan kepada mayit maka akan diringankan kepada mayit oleh karena surat Yasin”. (Tafsir Ibn Katsir 3/563, At-Talkhis 2/104).
قال الشافعي رحمه الله: ويستحب أن يقرأ عنده شيء من القران وإن ختموا القران عنده كان حسنا.
“Imam Syafi’i Rahimahullah berkata: dan disunatkan untuk membacakan kepada mayit sebagian dari Al-Quran dan apabila menamatkan Al-Quran kepada mayit maka itu lebih baik”. (Al-Majmu An-Nawawi 5/294, Riyadlush Shalihin 947).
5. Ziarah Kubur
قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: (نهيتكم عن زيارة القبور فزوروها).
“Rasulallah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: (Dulu aku melarang kalian berziarah kubur, maka sekerang berziarahlah kepada kubur). (HR Muslilm, An-Nasai, Hakim)
6. Tawasul
قال تعالى: ]يا أيها الذين آمنوا اتقوا الله وابتغوا إليه الوسيلة[(المائدة: 35).
“Allah Ta’ala bersabda: (Wahai orang-orang yang beriman bertqwalah kepada Allah dan mengharaplah kepada-Nya (dengan) wasilah (perantara))”. (QS Al-Maidah: 35).
عن عثمان بن حنيف رضي الله عنهك أن رجلا ضريرا أتى النبي صلى الله عليه وسلم فقال: ادع الله لي أن يعافني, فقال: (إن شئت صبرت وهو خير لك), قال: فادعه وفي رواية: ليس لي قائد وقد شق علي. فأمره أن يتوضأ فيحسن وضوءه ويدعو بهذا الدعاء: (اللهم إني أسألك وأتوجه إليك بنبيك محمد صلى الله عليه وسلم نبي الرحمة, يا محمد إني توجهت بك إلى ربي في قضاء حاجاتي لتقضى لي اللهم شفعه في). وزاد البيهقي: فقام وقد أبصر. وفي رواية: (اللهم شفعه في وشفعني في نفسي). (رواه أحمد)
“Dari Utsman bin Hanif RA: Suatu ketika datanglah seorang yang buta kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam lalu berkata: berdoalah kepada Allah untuku agar menyembuhkanku. Nabi bersabda: (Jikalau kamu mau bersabar maka itu lebih baik). Orang tersebut menjawab: Doakanlah! Diriwayat yang lain: Aku tidak mempunyai lagi kekuatan dan sudah sangat memberatkanku. Lalu Nabi menyuruhnya untuk berwudlu dan memperbagus wudlunya dan berdoa dengan doa ini: (Ya Allah sesungguhnya aku meminta dan menghadap kepada-Mu dengan (bertawasul) melalui nabi-Mu Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam yang memberitakan kasih sayang, wahai Muhammad sesungguhnya aku menghadap kepadamu menuju Tuhanku dalam mengabulkan keinginanku (dan) untuk mengabulkan kepadaku. Ya Allah syafa’atilah dia didiriku”. Dalam riwayat Al-Baihaqi: maka dia langsung berdiri dan bisa melihat lagi. Dan diriwayat lain: “Ya Allah syafa’atilah dia didiriku syafa’atilah aku di dalam diriku”. (HR Ahmad)
http://nahdliyin.net/
Label:

Posting Komentar

[blogger]

MKRdezign

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget