Zanbal Palembang


Zanbal Palembang

Alhamdulillah ziarah ke Hadramaut Tsani alias Zanbalnya Palembang berlangsung lancar, dg support penuh dari Kantor Kemenag Palembang. Ziarah ini meliputi:
1. Pemakaman Kesultanan Kawah Tengkurep
2. Pemakaman Auliya’ Kambang Koci, dan
3. Pemakaman Pangeran Syarif Ali bin Syekh Abi Bakr bin Salim.
Dengan mengacu ke tulisan Bpk Anton Bae mari kita mulai perjalanan dari Kawah Tengkurep lebih dahulu, dilanjutkan hingga Pangeran Syarif Ali.

Kawah Tengkurep

Di sana ada makam Habib Abdullah bin Idrus Al-Aydrus, Sultan Mahmud Badaruddin I,
ayah dan kakek dari Habib Nuh Al-Habsyi (Keramat Tanjung Pagar Singapura),
dan lain-lain.
Habib Abdullah bin Idrus merupakan salah satu tokoh kebanggaan masyarakat Palembang. Semasa hidupnya ia mempunyai kedudukan tinggi yang disebabkan ilmu dan ahlaknya yang mulia, itu terjadi dimanapun ia berada, bahkan di Hadramaut sendiri pun ia mendapatkan penghormatan yang lebih dari para habib di sana.
Di dalam kitab Tuhfatu Al-Ahbab fi Manaqib Al-Habib Alwi bin Abdullah bin Idrus bin Shahab disebutkan bahwa setiap kali Habib Ali bin Muhammad Al-Habsyi, Seiwun datang ke kota Tarim, beliau selalu berusaha untuk memuliakan dan mengutamakan Habib Abdullah untuk menjadi imam shalat baik di majlis-majlis umum maupun khusus.
Habib Abdullah bin Idrus adalah ayah dari Habib Alwi Qolbu Tarim, Hadramaut. Makamnya yang terletak di Gubah Duku yang merupakan tanah wakaf Habib Syech bin Ahmad bin Shahab ini sering dizirahi oleh masyarakat baik dari dalam maupun luar kota Palembang, bahkan tamu-tamu dari Pulau Jawa dan Hadramaut.
Sedangkan Habib Abdurrahman bin Ahmad Al-bin Hamid merupakan habib yang mulia. Ia banyak menimba ilmu pengetahuan dari para habib baik di Palembang maupun dari Hadramaut, di antaranya Habib Abdullah bin Idrus bin Shahab. Adapun tokoh habib yang banyak menimba ilmu pengetahuan darinya antara lain putranya sendiri, Habib Ahmad, Habib Ahmad bin Zein bin Shahab dan Habib Muhammad bin Hamid bin Syech Abubakar.
Pemakaman Kesultanan Kawah Tengkurep ini terletak di Kelurahan 3 Ilir Boom Baru Palembang (sekitar satu setengah kilometer dari Pemakaman Pangeran Syarif Ali). Dibangun pada tahun 1728 M oleh Sultan Mahmud Badaruddin I (1724-1758), yaitu seorang pemimpin yang arif dan bijaksana, serta seorang seorang ulama yang hafal Al-Quran.
Di dalam pemerintahnya, Sultan Mahmud Badaruddin I banyak mengadakan musyawarah terutama dengan para habib. Ia pun memiliki guru-guru agama dari kalangan habib. Bahkan hampir semua putrinya dinikahkan dengan habib.
Adapun Imam Kubur – istilah untuk penasehat agama kesultanan yang biasanya dimakamkan bersebelahan dengan para sultan – dari Sultan Mahmud Badaruddin I yaitu Al-‘Arif Billah Al-Habib Abdullah bin Idrus Al-Idrus.
Habib lainnya yang dimakamkan di Pemakaman Kawah Tengkurep, antara lain adalah Al-‘Arif Billah Al-Habib Abdurrahman bi Husin Al-Idrus (Maula Taqooh) yan merupakan Imam Kubur Sultan Ahmad Najamuddin (1758-1776 M), Al-‘Arif Billah Al-Habib Muhammad bin Ali Al-Haddad (Datuk Murni) yang merupakan Imam Kubur Sultan Mahmud Bahauddin (1776-1803 M), Al’Arif Billah A-Habib Muhammad bin Yusuf Al-Angkawi, Al-‘Arif Billah Al-Habib Agil bin Alwi Al-Madihij (Penghulu Al-Madihij di Paembang), serta  Al-‘Arif billah Muhammad dan Habib Ahmad bin Idrus Al-Habsyi yng merupakan ayah dan kakek dari Habib Nuh Al-Habsyi (Keramat Tanjung Pagar Singapura).
Selain itu di sini juga dimakamkan seorang waliyah bernama Hababah Sidah binti Abdullah bin Agil Al-Madihij. Dikisahkan bahwa ia pernah bertemu dengan Rasululah SAW secara yaqozoh (dalam keadaan sadar) dengan iringan tetambuhan rebana dan aroma harum wewangian, sehingga seluruh perkampungan di sekitar rumahnya pun dapat mendengar suara tabuhan rebana tersebut.

Pemakaman Kambang Koci

Lokasi pemakaman ini bersebelahan dengan Pemakaman Kawah Tengkurep atau jaraknya sekitar 200 meter. Konon, pada tahun 1151 H/ 1735 M, Sultan Mahmud Badaruddin 1 mewakafkan sebidang tanah yang cukup luas untuk pemakaman anak cucu serta menantunya. Tanah pemakaman tersebut dinamakan Kambang Koci, yang berasal dari kata kambang (kolam) dan sekoci (perahu), karena jauh sebelumnya tempat itu merupakan tempat pencucian perahu.
Beberapa penghulu habib yang dimakamkan di sini antara lain Al-‘Arif Billah Al-Habib Syech bin Ahmad bin Syahab yang merupakan ulama besar pada masanya dan dikarenakan kedekatannya dengan Sultan Mahmud Badaruddin 1, ia dianegerahi tanah yang sangat luas dari daerah Kuto sampai Kenten, yang di antara lain ia wakafkan sebagai tanah pemakaman kaum alawiyyin Palembang serta tanah wakaf Masjid Daarul Muttaqien. Al-‘Arif Billah Al-Habib Ibrahim bin Zein bin Yahya (wafat 1790 M), merupakan seorang ulama besar yang memahami banyak masalah Ilmu Fiqh, beliau adalah menantu Sultan Mahmud Badaruddin I yang beristrikan Raden Ayu Aisyah binti Sultan Mahmud Badaruddin I. Al-‘Arif Billah Al-Habib Alwi bin Ahmad Al-Kaaf yang dikenal sebagai seorang wali Quthb.
Selain itu, di pemakaman ini juga dimakamkan Habib Abdullah bin Salim Al-Kaaf yang merupakan seorang ulama besar sekaligus pengusaha sukses. Beliaulah yang mambangun Masjid Sungai Lumpur pada tahun 1287 H yang berlokasi di 11 Ulu Palembang, dan Habib Abdullah bin Ali Al-Kaaf yang merupakan seorang wali yang mastur (tersembunyi). Adapun keturunannya yang banyak menjadi orang sholeh dan ulama besar yang tersebar di Tegal, Jakarta, Jeddah, dan Hadhramaut, antara lain Habib Abdurrahman bin Ahmad Al-Kaaf, Jeddah, dan Habib Abdullah bin Ahmad Al-Kaaf, Jakarta dengan anak-anaknya yang menjadi muballighin.
Mengingat banyaknya para wali yang dimakamkan di Pemakaman Kambang Koci serta di beberapa pemakaman lainnya di kota Palembang, maka banyak dari pemuka habaib dari Hadramaut menyebut Kambang Koci sebagai Zanbal (pemakaman para wali di Kota Tarim, Hadhramaut)-nya Palembang. Sementara Kota Palembang sendiri sempat dijuluki sebagai Hadramaut Tsani alias Hadramaut Kedua, karena banyak para ulama yang menetap dan beranak-pinak di kota ini, seperti di perkampungan Sungai Bayas.

Pemakaman Pangeran Syarif Ali

Tempat ini terletak di Kelurahan 5 Ilir Boom Baru, sekitar 1 km dari Kawah Tengkurep.
Al-Habib Pangeran Syarif Ali yang wafat pada tanggal 27 Muharram 1295 H/ 1877 M, merupakan seorang waliyullah. Syarif Ali dilahirkan di Palembang pada tahun 1795 M, dari seorang ibu yang bernama Syarifah Nur binti Ibrahim bin Zaid bin Yahya. Adapun ayahnya Habib Abubakar dilahirkan di kota Inat, Hadramaut. Habib Abubakar datang ke kota Palembang bersama ayahnya yaitu Habib Sholeh bin Ali sekitar tahun 1755, diakhiri masa kepemimpinan Sultan Mahmud Badaruddin 1, setelah itu Habib Sholeh kembali ke Hadramaut dan meninggal di kota Inat.
Di samping mendapatkan pendidikkan agama dari ayahnya, Syarif Ali juga banyak menimba ilmu agama dari para habib baik dari kota Palembang sendiri maupun Hadramaut. Selain terdidik dalam lingkungan keagamaan, pada usia dewasanya, beliau giat melakukan pelayaran niaga, terutama ke Kalimatan dan Jawa dengan menaiki kapal kayu sederhana (Pinisi).
Dari pergaulan yang luas dalam hubungannya dengan para pembesar kesultanan, Syarif Ali memperoleh pengalaman diplomatik, karena itu ia tampil sebagai seorang yang berwibawa dan mendapat kepercayaan sultan. Pernah suatu ketika Syarif Ali mendapat misi khusus ke Kalimatan untuk keperluan Sultan Husin Dhiauddin dan misi tersebut berhasil dengan baik, karena itu sultan menikahkan salah seorang putrinya yang bernama Laila. Dari perkawinan inilah Syarif Ali diberi gelar Pengeran. Bahkan, beliau meskipun dalam usia yang relatif muda sudah dipercaya untuk menduduki jabatan sebagai Bendahara Kesultanan.
Selain makam Habib Pengeran Syarif Ali dan keluarganya, di sini juga dimakamkan Habib Umar bin Alwi bin Syahab yang merupakan ipar dari Pangeran Syarif Ali. Beliau dimakamkan tepat di sebelah makam Pangeran Syarif Ali. Habib Umar adalah seorang ulama yang banyak menyebarkan agama Islam ke pelosok-pelosok terpencil. Beberapa suku adat di Palembang masuk Islam berkat pelantaran beliau, terutama di pesisir Sungai Musi, antara lain daerah Pegayut, Pemulutan, Muara Enim, Lingkis, Ulak Temago, Suko Darmo, bahkan sampai saat ini banyak keturunannya tinggal di daerah Bungin Kiaji yang lebih dikenal dengan Desa Pegayut.

Posting Komentar

[blogger]

MKRdezign

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget